Monday, August 20, 2012

Eksklusifitas - perangkap yang tak terlihat

Ada sebuah fenomena menarik yang saya lihat dari beberapa teman saya di kantor tempat mereka bekerja. Berawal dari kegemaran mereka untuk makan, mereka membentuk sebuah komunitas kecil dan berlanjut dengan memberi nama komunitas mereka. Setelah beberapa bulan saya amati, awalnya semuanya baik, karena mereka menjadi lebih solid dalam hal pertemanan, menyempatkan diri untuk sekedar makan malam bersama jika ada salah satu yang berulangtahun. Tapi lama kelamaan, komunitas kecil tersebut kemudian mulai menunjukkan eksistensinya dengan cara-cara sederhana, yang saya yakin tujuannya juga sebenarnya baik, yaitu misalnya berjanji memakai baju dengan dress code yang sama di hari tertentu, berfoto bersama saat istirahat dan lain-lain.

Apakah ada yang aneh dengan komunitas tersebut ? Saya cenderung tidak menyebutnya sebagai komunitas, tapi saya lebih suka menyebutnya sebagai kelompok. Karena mereka tidak menambah atau bahkan mencari member. Hanya sekian saja jumlah anggotanya.

Sebenarnya yang perlu diwaspadai adalah adanya sebuah perangkap yang tidak kita sadari. Kelompok kecil tersebut secara tidak sengaja telah menuju ke arah 'eksklusifitas'. Dalam bahasa Indonesia, kata 'eksklusif' diterjemahkan sebagai sesuatu yang khusus atau bagian yang terpisah dari yang lain.

Dulu pernah ada teman saya yang sangat marah dikatakan bahwa kelompoknya adalah kelompok eksklusif. Karena ternyata pengertian teman saya adalah bahwa eksklusif itu adalah keadaan dimana sebuah kelompok terdiri dari orang-orang berduit.

Padahal dimanapun juga kita bisa menjadi eksklusif dengan cara menunjukkan jati diri kelompok atau komunitas dengan cara yang terlihat secara signifikan oleh umum.

Pernah satu saat sewaktu saya masih bekerja, saya diberi sebuah tim baru yang terdiri dari 3 orang staff dengan latar belakang pendidikan yang berbeda-beda, namun kami memiliki satu tugas yang harus diselesaikan dalam jangka waktu tertentu dan tidak ada negosiasi. Maka sebagai leader dari grup kecil tersebut, saya merasa bahwa hal terpenting adalah membawa grup saya melalui proses pembentukan tim yang baru dengan cepat, sehingga kami bisa bekerja sama dengan baik untuk tugas tersebut. Dan syukurlah team work dan bonding diantara kami berlangsung cukup cepat dengan memanfaatkan waktu luang disela-sela kerja untuk saling mengenal satu sama lain. Tapi apa yang dilihat oleh boss saya? Saya dipanggil dan diberitahu bahwa adalah hal yang kurang baik saya membuat tim yang eksklusif.

Maka dari ketiga cerita diatas, terlihat nyata betapa kita mudah terbawa ke arah eksklusifitas dan betapa orang lain mudah menilai kelompok atau komunitas kita eksklusif atau tidak.

Mari kita coba lihat dari ketiga peristiwa tersebut :
Peristiwa 1 : kelompok kecil yang berawal dari kegemaran yang sama ternyata sekarang mulai menuju ke arah eksistensi kelompok dan mungkin orang akan menilai mereka menjadi eksklusif.
Peristiwa 2 : teman saya marah karena dikatakan eksklusif, sebab ternyata masih ada orang yang belum mengerti arti kata tersebut.
Peristiwa 3 : dengan tujuan menumbuhkan team work dan bonding di tim saya yang baru, ternyata orang lain melihat saya membentuk sebuah tim yang eksklusif.

Nah, karena itu teman-teman, marilah kita bersama-sama merenungkan bahwa walaupun sebuah kelompok memerlukan jati diri, hendaklah kita tidak membuat sesuatu yang 'eksklusif', yang terpisah dari yang lain. Kita patut berempati dengan perasaan orang di sekeliling kita, bukan penilaian mereka, karena mungkin sebagian orang akan melihat kita menjadi anggota dari sebuah grup yang eksklusif dengan seragam yang berbeda atau sandi-sandi yang dipakai dalam berkomunikasi dan lain-lain. Mungkin kita yang berada dalam kelompok tersebut merasa nyaman dan senang. Tapi apakah kita pernah berpikir bahwa mungkin orang-orang di sekitar kita sebenarnya juga ingin berteman dan bergabung dengan kita ?

Eksklusifitas adalah perangkap yang tersedia dimana-mana. Untuk bisa membuat diri kita aware/mawas diri, tumbuhkanlah empati dalam diri sehingga kita akan selalu melihat orang di sekeliling kita. Kita memang tidak perlu dan tidak akan pernah bisa membuat semua orang senang. Tapi setidaknya, sebelum kita melakukan sesuatu, hendaklah mata kita seperti mercusuar yang melayangkan pandangan ke sekeliling kita. Jadikanlah kelompok atau komunitas anda inklusif, bisa bergaul dengan siapa saja. Hindari terperangkap dalam eksklusifitas. Jika ada orang yang memberi masukan bahwa kelompok anda eksklusif, jangan marah, tapi pikirkan dan renungkan. Mungkin bukan maksud anda untuk berbuat seperti itu, tapi ada baiknya untuk sedikit menahan diri agar tidak terlihat seperti itu oleh orang-orang di sekeliling kita.

So, be inclusive, stay away from exclusivity.

Saturday, August 18, 2012

Tertekan dalam Belajar

Suatu hari di sebuah kursus bahasa Inggris, semester baru dimulai dengan sang guru mengajak siswa untuk bersama-sama membuat Classroom Rules. Poin classroom rules tiba pada poin yang disetujui seluruh siswa yaitu : jika ada siswa yang merusak barang dalam kelas, maka siswa tersebut harus menggantinya.

Yang terjadi kemudian adalah hal yang tak terduga. Robert, sebutlah nama siswa tersebut, adalah siswa yang pendiam dan biasanya kooperatif. Tiba-tiba setelah poin tersebut disetujui, Robert langsung keluar kelas.

Sewaktu ditanya oleh sang guru tentang hal tersebut, Robert menjawab : "Aku capek, miss. Tadi habis les matematika, kepalaku pusing. Jadi aku tertekan...."

Robert adalah siswa kelas 4, namun sudah bisa mengekspresikan perasaannya dimana hidupnya penuh dengan berbagai macam les. Dengan satu kata yang mengherankan yaitu : TERTEKAN.

Padahal sewaktu tahun 80-an, jarang sekali anak SD yang penuh dengan berbagai macam les. Dan mungkin perasaan tertekan itu juga tidak kita rasakan.

Tetapi apakah salah orang tua sehingga anak harus mengikuti berbagai macam les ? Tidak juga, karena dasar pemikiran orang tua adalah agar berbagai macam les tersebut bisa menunjang si anak agar lebih mengerti materi yang diberikan di sekolah.

Lalu berarti kesalahan ada pada sekolah ? Tidak juga, karena sekolah memberikan materi sesuai dengan kurikulum pendidikan nasional dari Departemen Pendidikan Nasional.

Jadi berarti kesalahan ada pada Diknas ? Mungkin juga. Karena seharusnya materi yang diberikan kepada anak-anak harus sesuai dengan perkembangan dan kematangan pribadi anak.

Kalau kita perhatikan, materi yang diterima oleh anak-anak SD jauh lebih tinggi daripada sewaktu saya masih sekolah di SD. Apalagi yang sudah duduk di bangku SMP dan SMA.

Sebaiknya memang perlu dilakukan survey yang menyeluruh mengenai kurikulum yang saat ini dipakai di Indonesia. Apa tujuan akhir yang ingin dicapai ? Apakah memang tujuan tersebut sudah tercapai ? Apakah anak-anak di Indonesia memang mampu mengikuti kurikulum tersebut sesuai dengan usia mereka ? Jika mengadopsi kurikulum dari negara tetangga, apakah sudah benar-benar dipertimbangkan kelebihan dan kekurangannya ? Dan apakah dengan nilai akademis seorang anak bisa diukur kualitas dan keberhasilannya ?

Pertanyaan yang banyak dan memerlukan usaha yang banyak juga untuk menjawabnya.

Seorang manusia yang baik dan berguna bagi bangsa dan negaranya adalah manusia yang memiliki akhlak yang baik, kepribadian yang positif. Kemampuan akademis adalah hal formal yang diperlukan untuk melanjutkan dan menyelesaikan pendidikan, tetapi bukan yang utama.

Apakah pernah dipertimbangkan bahwa tidak semua anak Indonesia disa diberi tekanan untuk 'jago' dalam matematika, fisika dan hal-hal eksakta lainnya ?

Pernahkan dipikirkan sesuai dengan teori Multiple Intelligence bahwa ada anak-anak yang memiliki intelegensia dalam hal linguistik/bahasa, seni, kemampuan motorik kasar/sport, dan lain-lain ?

Ayo, para orang tua, apakah ada opini atau pendapat mengenai hal ini ? Apakah kita sebagai orang tua bisa berbuat sesuatu agar tidak ada lagi anak-anak kita yang mengekspresikan keadaan dirinya dengan kata TERTEKAN. Belajar seharusnya merupakan pengalaman yang menyenangkan, bukan pengalaman yang menakutkan.

Wednesday, August 8, 2012

Empati Dalam Era Globalisasi

Tadi pagi saya bersama teman memutuskan untuk pergi ke tempat pijat refleksi langganan kami yang terletak di dalam kompleks perumahan kami. Karena kami adalah pelanggan pertama pada pagi hari itu, maka saya disodorkan remote control TV. Setelah pencet sana pencet sini, akhirnya jari saya berhenti di channel yang kebetulan saat itu memutar sebuah film science fiction yang sangat menarik. Karena tidak ada permintaan lagi, maka kami beramai-ramai nonton film tersebut salam refleksi.

Berselang setengah jam, datanglah seorang ibu yang mungkin middle aged, dengan selendang dan kacamata hitam. Dari sejak datang memang ibu tersebut sudah cukup heboh dan mungkin beliau habis terjatuh atau terkilir karena jalannya pincang.

Sambil duduk menunggu terapisnya datang, ibu ini melihat layar televisi. Pas pada saat itu adegan yang terjadi adalah adegan dimana ada sepasang kekasih sedang - maaf - berciuman. Tapi itu terjadi sangat singkat dan sudah berganti ke adegan pertempuran.

Tiba-tiba ibu itu berdiri dan dengan suaranya yang cukup lantang untuk didengar oleh kami semua dalam ruangan itu, dia meminta remote control TV dan berkata - entah ditujukan kepada siapa - bahwa : "kita ganti aja, ini filmnya terlalu ekstrim, kita cari yang ringan-ringan saja, musik saja lah ..."

Dan tanpa ada kata-kata, beliau langsung mengganti channel. Tak lama kemudian karena tidak jadi dipijat, ibu tersebut langsung pulang.

Bagaimana reaksi semua orang yang ada dalam ruangan itu ? Hanya satu : bengong. Bagaimana dengan saya sendiri, sampai malam harinya saya masih terbayang-bayang dengan kejadian tersebut. Bukan karena saya marah sebab film yang menarik tersebut tidak bisa saya tonton selama beberapa menit. Tetapi saya lebih melihat dua hal penting dari kejadian tersebut.

Pertama, kita sebagai orang Timur, bukankah sangat menjunjung tinggi sopan santun dan etika berkomunikasi ? Dengan cara ibu ini langsung melakukan 'sabotase kecil' dengan remote control AC, menunjukkan bahwa beliau merasa tidak perlu bertanya apakah film tersebut sedang ditonton atau hanya salah pencet channel. Nah, kalau generasi middle-aged nya seperti itu, saya bertanya dalam hati, bagaimana dengan generasi muda di keluarga ibu ini. Bukankan anak-anak dan remaja selalu mencontoh segala tingkah laku dari orang tua mereka?

Yang kedua, sekarang adalah jaman globalisasi. Dari satu sisi, adegan seperti itu adalah bumbu sebuah film dan kebetulan film itu memang film untuk orang dewasa. Dari sisi lain, yang ada disitu semuanya orang dewasa, sudah menikah semua. Hanya karena ada scene yang beliau tidak berkenan, bukan berarti beliau punya hak untuk melakukan sensor dengan memindah channel.

Kalau kita gabungkan kedua hal tersebut, hal penting yang bisa ditarik sebagai kesimpulan adalah bahwa kita sebagai orang yang sudah 'dewasa' secara usia, sudah sewajarnyalah bisa beradaptasi dengan dunia dan teknologi saat ini. Memang kita mesti memberikan 'pagar-pagar' untuk anak kita, tapi bukan berarti kita memperlakukan anak seperti anak bayi. Dilihat dari cara ibu itu bertindak, dimana beliau langsung men-judge bahwa adegan tersebut ekstrim dan langsung mengambil kontrol dalan ruangan tersebut, maka bisa kita bayangkan bagaimana generasi muda di keluarga mereka akan bersikap. Tidak ada empati dengan lingkungan sekitar dan tidak bisa beradaptasi dengan teknologi dan globalisasi.

Hari gini kalau kita sebagai orang tua melarang anak-anak terlalu banyak, wah, mereka akan semakin penasaran dan akan menemukan cara untuk mencari tahu sendiri. Bukankah itu lebih berbahaya ?

Hari gini, kalau kita sebagai orang tua tidak bisa menumbuhkan empati anak-anak untuk bisa bersosialisasi dengan baik dengan semua orang, wah .... kasihan mereka nantinya kalau sudah masuk dunia kerja.

Jadi para orang tua, banyak-banyaklah membaca mengenai parenting skill. Banyaklah mengikuti 'social media' yang membahas mengenai parenting. Agar kita tidak terjebak ke dalam pola pengasuhan anak yang kolot dan tidak terbuka.

Anak adalah titipan Tuhan, jadi jangan mencoba membentuk anak sesuai dengan gambaran kita. Tugas kita di dunia ini hanyalah membimbing mereka agar tahu mana yang benar dan mana yang tidak benar untuk diikuti.

Monday, July 30, 2012

THINKING vs FEELING

Dalam sebuah teori mengenai kepribadian/personality, disebutkan bahwa manusia adalah mahluk yang unik, namun secara garis besar biasanya mereka memiliki kecenderungan/preference dalam hal menyalurkan energinya, cara memahami lingkungan sekitarnya, cara mengelola kehidupannya dan cara memecahkan permasalahan dalam hidupnya.

Saya baru saja mengalami sebuah diskusi dengan seseorang dimana terlihat sekali kecenderungan manusia dalam mencari solusi untuk permasalahannya.

Secara garis besar, inti permasalahannya adalah Janitor/Office Girl yang bekerja di tempat kami sudah mengatakan akan mengundurkan diri setelah Lebaran tahun ini dengan alasan keluarga. Karena Lebaran sudah dekat, maka saya langsung memulai usaha untuk mencari orang pengganti agar tidak kelimpungan nantinya.

Tanpa sengaja, lewat seorang teman saya mendapatkan kandidat pengganti. Namun saya ingin melihat dulu hasil kerjanya sebelum saya memutuskan akan memperkerjakan sang kandidat ini.

Awalnya sang kandidat akan masuk di hari yang sama dengan Office Girl kami dimana kami akan meminta si karyawan lama untuk memberitahukan apa saja yang harus dikerjakan selama satu hari dan kami akan melihat hasil pekerjaannya sehingga bisa memutuskan apakah orang ini bisa bekerja dengan baik.

Namun sejalan dengan waktu, tadi siang saya berubah pikiran. Saya mempunyai ide untuk melakukan pendekatan yang sedikit berbeda. Saya tetap meminta kandidat ini untuk masuk dan mencoba bekerja selama setengah hari saja, namun karyawan lama tidak perlu masuk. Tapi saya akan meminta asisten saya yang baru, untuk mengajarkan orang baru ini sekaligus melihat hasil kerjanya bersama-sama, kemudian memutuskan bersama mengenai kelanjutannya.

Sebenarnya perubahan ide ini didasari dengan pertimbangan sederhana yang logis yaitu :
1. Memberi kesempatan kepada asisten saya yang baru, untuk 'take in charge' atas Office Girl yang baru karena memang hal tersebut merupakan bagian dari tanggung jawabnya
2. Memberi gambaran kepada calon karyawan kepada siapa nantinya dia akan berkoordinasi
3. Berusaha mencari pendekatan yang memungkinkan kami mengambil keputusan dengan obyektif tanpa adanya tambahan penilaian dari karyawan yang lama
4. Manusia punya kecenderungan untuk merasa 'dibutuhkan', sehingga pasti ada rasa 'tidak aman' jika mengetahui sudah ada calon penggantinya walaupun dia masih bekerja sebulan lagi
5. Saya selalu mempunyai prinsip bahwa masalah harus dicari solusinya secepat mungkin, apalagi jika menyangkut urusan sumber daya manusia

Semua perubahan ide dan pertimbangan logis tersebut saya sampaikan kepada asisten saya yang sudah lama bekerja dengan saya, karena saya ingin melihat pertimbangan dan pemikirannya.

Tanggapannya memang mengejutkan - bukan dalam arti tanggapannya aneh, tetapi dalam arti bahwa teori personality tersebut terbukti dari sebuah kasus kecil seperti ini.

Tanggapan dari asisten saya yang senior ini sederhana koq : dia khawatir karyawan lama ini malah bertanya-tanya jika ada temannya yang bekerja di ruko sebelah kami melihat ada orang baru yang sedang membersihkan ruko kami.

Sebelum menganalisa perbedaan cara pandang tersebut, saya ingin berbagai mengenai teori tersebut dimana kecenderungan manusia untuk memecahkan masalah biasanya terbagi menjadi dua kutub yang melibatkan kombinasi antara empati dan logika, yaitu :
Kutub 1 : disebut tipe THINKING, dimana biasanya kita mendahulukan cara berpikir dengan logika untuk memecahkan masalah, setelah itu barulah dikombinasikan dengan unsur empati untuk mencari solusi yang terbaik
Kutub 2 : disebut tipe FEELING, dimana biasanya kita mendahulukan empati dan berkeinginan kuat untuk membuat lingkungan sekitar semuanya merasa senang dan nyaman, baru setelah itu memasukkan unsur logika untuk memutuskan

Jadi dari penjelasan tersebut, terlihat dengan jelas bahwa saya adalah orang dengan preference THINKING dimana saya selalu mendahulukan logika untuk memutuskan sesuatu. Sementara asisten senior saya adalah orang dengan preference FEELING dimana dia berkeinginan kuat memastikan agar semua pihak merasa tidak tersakiti dengan pendekatan yang ada.

Apakah salah satu pemikiran tersebut ada yang salah ? Apakah saya adalah orang yang kejam karena tidak mau berempati dengan karyawan lama ? Apakah asisten senior saya adalah orang yang tidak berpikiran maju karena selalu mendahulukan perasaan orang sebelum memutuskan sesuatu ?

Jawabannya adalah TIDAK ADA YANG SALAH. Justru keadaan seperti itu bisa dimanfaatkan dengan baik jika kita bisa mensinergikan perbedaan tersebut dan bisa dengan lapang dada menerima pemikiran dan cara pandang yang berbeda seperti itu.

Cara pandang asisten senior saya juga telah membantu saya untuk bisa lebih berempati dengan karyawan lama saya dan memikirkan bagaimana saya harus menjelaskan jika memang sang karyawan lama bertanya kepada saya. Saya juga berharap asisten senior saya bisa mengambil hal positif dari logika saya.

Namun inti dari semuanya itu adalah bahwa kita memang adalah mahluk unik yang diciptakan Tuhan dengan cara berpikir yang tidak pernah sama. Bahkan dalam hal yang sederhana sekalipun.

Jadi bersyukurlah atas segala yang ada dalam diri kita. Dan bersyukurlah jika kita masih diberi kesempatan oleh Tuhan untuk bisa melihat dan mengalami bekerja sama dengan orang-orang yang memiliki cara pandang berbeda dengan kita. Hindari untuk melihat mereka sebagai orang yang 'aneh', tetapi cobalah untuk memahami mereka dan pakailah cara pandang mereka untuk 'memperkaya' batin kita.

Thursday, July 5, 2012

Kegiatan positif saat libur : sekelompok anak usia 12 tahun mencoba kerja magang sederhana

Berawal dari sejak berakhirnya UN (Ujian Nasional) untuk kelas 6, dimana kebetulan sekolah anak saya ternyata meliburkan siswa kelas 6 selama sebulan. Tentu saja saya merasa kaget mendengar hal tersebut dari anak saya karena saat itu anak yang lain masih aktif bersekolah dan menurut saya seharusnya siswa kelas 6 tetap datang ke sekolah agar dapat tetap dimonitor oleh guru dan memiliki kegiatan terarah.

Setelah itu saya berpikir bagaimana acaranya agar anak saya tidak menghabiskan waktunya dengan nonton tv atau main-main internet. Yang pasti, kegiatan tersebut haruslah baru dan melibatkan beberapa temannya.Lalu saya teringat pada teman saya yang memiliki sebuah toko yang menjual part-part atau item elektronik seperti kabel, stop kontak, IC dll. Saya coba tanyakan apakah teman saya membutuhkan tenaga untuk melakukan stock taking di tokonya.

Akhirnya setelah disetujui, saya berbicara dengan anak saya dan menjelaskan konsep magang atau internship. Saya tawarkan kesempatan tersebut dan menanyakan apakah dia tertarik. Jawabannya : tertarik. Lalu kami bersama-sama mencari 3 orang temannya yang orangtuanya saya kenal.Setelah itu saya menelpon orang tua mereka, dalam hal ini para ibu, dan menawarkan apakah mereka mengijinkan anaknya untuk ikut dalam program magang di tempat teman saya selama libur ini. Tentunya ada sedikit uang saku yang sudah disiapkan. Tapi bukan itu tujuan utamanya. Tujuannya adalah untuk mengisi waktu mereka dengan kegiatan yang positif sekaligus memberikan pengalaman baru bagi mereka tentang rasanya 'bekerja'.

Beberapa hari sebelum program magang dimulai, saya mengumpulkan mereka dan menjelaskan mengenai konsep magang dengan term kerja yang sangat mudah yaitu : tugas mereka adalah menghitung barang dan menuliskannya pada kartu stock, periode bekerja adalah sekitar 9 hari dan hanya dilakukan setiap hari Rabu sampai Jumat, dibagi dalam dua kelompok dan hanya bekerja selama 3 jam saja.Untuk lebih memberikan gambaran dunia kerja, saya buatkan sebuah Perjanjian Kerja yang sangat sederhana dimana didalamnya tertulis mengenai jam kerja, datang harus tepat waktu dll.

Akhirnya hari pertama dimulai dimana teman saya menjelaskan mengenai cara kerja dan juga memberitahu jangan hanya menghitung tetapi cobalah untuk belajar mengenai item yang ada. Diakhir hari, saya bertanya kepada anak saya, bagaimana rasanya bekerja. Jawabannya : capek. Ternyata setelah saya coba kumpulkan data, ketiga anak yang lain juga memiliki komentar yang sama : capek.

Namun walaupun ada yang kecapekan seperti anak saya yang selalu makan dengan sangat 'lahap' setiap pulang kerja, ada yang 'mutung' karena terlalu capek sebab pagi harinya baru main futsal dengan teman-temannya, ada yang berencana tukar hari karena ada rencana main dengan teman, ada yang berkata bahwa tidak mau lagi kerja menghitung seperti ini ; yang mengagumkan adalah keempat anak ini pada akhirnya tetap dengan semangat dan konsisten menyelesaikan periode kerjanya selama 9 hari.

Selayaknya usia anak kelas 6, mereka masih malu-malu untuk bertegur sapa dengan karyawan toko, sehingga tidak tahu nama mereka. Tapi saya mendorong anak saya untuk bertanya siapa nama mereka dan alangkah baiknya kalau bisa berinteraksi dengan mereka. Saya juga diberitahu bahwa mereka tidak mau mengambil jatah air mineral yang sudah disediakan. Mungkin malu ya ...

Yang lebih menarik lagi adalah saat pembagian uang saku. Sesuai dengan permintaan teman saya, mereka dibuatkan kartu ucapan terima kasih yang dilaminating dan dimasukkan ke dalam amplop. Reaksi mereka ternyata bermacam-macam. Anak saya loncat-loncat kegirangan menerima honornya dan langsung punya rencana banyak dengan uang tersebut (tentu saja upah tersebut tidak akan bisa mengakomodasi semua rencananya 😊). Ada yang dengan bangga mengatakan dia akan membawa uang hasil kerjanya saat nonton bareng dengan teman-temannya ke mall dan berencana untuk belanja buku dll. Tapi ada juga yang sama sekali tidak melihat isi amplopnya dan keesokan harinya ibunya menemukan amplop tersebut di tempat sampah dan setelah dicek, uangnya masih ada dalam amplop, dan saat diberitahukan kepada anak tersebut, reaksinya hanya ketawa saja.

Sampai saat ini saya belum sempat berbicara lagi dengan keempat anak tersebut. Namun saya yakin bahwa mereka sudah mendapat 'essence' dari program magang yang sederhana ini, bahwa untuk mendapatkan sesuatu, kita harus berusaha. Dalam hal ini, untuk mendapatkan tambahan uang saku di hari libur, mereka harus bekerja.

Reaksi mereka yang beraneka ragam memang mencengangkan, tapi sekaligus juga menjadi sebuah pengalaman yang sangat berharga dan unik untuk saya. Bagian terbaik yang saya sangat hargai adalah komitmen dan konsistensi mereka dalam menyelesaikan tugasnya. Walaupun saya yakin pasti ada hari-hari dimana godaan untuk bolos pasti sangat besar. Sama seperti kita, dimana terkadang timbul kejenuhan untuk berangkat kerja di pagi hari.

Dan yang membuat saya bersyukur adalah saat saya mendengar beberapa cerita dari para ibu tentang kegiatan anaknya yang membuat mereka stress, yaitu main sepeda seharian atau malah asyik main game online di rumah dari pagi sampai malam.

Saya juga bersyukur bisa mendapat advice dan moral support dari mbak Nina (@AnnaNinaSurti) saat hendak melaksanakan ide ini. Beliau juga yang mendorong saya untuk menuliskan pengalaman saya ini di blog dengan harapan agar bisa dibaca oleh para orang tua.

Di belahan dunia barat, anak bekerja saat liburan adalah hal yang wajar sepanjang pekerjaannya memang sesuai dengan usianya. Dan kita sebagai orang tua bisa membantu menciptakan lapangan kerja tersebut dengan mengandalkan kreatifitas kita dan disesuaikan dengan kondisi lingkungan sekitar. Gunakan koneksi dengan teman yang memiliki toko atau usaha sendiri. Pilihlah jenis pekerjaan yang cocok. Jadilah pendengar yang baik bagi mereka. Anda pasti akan kagum dengan nilai-nilai hidup dan cara pandang mereka dalam proses ini.

Saya bersyukur saya bisa mewujudkan ide dengan bantuan mbak Nina, teman saya dan juga dukungan dari para ibu mereka. Saya berharap anak-anak berempat itu bisa mendapatkan pengalaman yang positif dari program magang yang sederhana ini.

Saya masih memiliki keinginan untuk terus mencari kesempatan seperti ini lagi saat anak saya libur panjang, sehingga mereka bisa mendapatkan pengalaman positif. Kita boleh menyediakan seluruh sarana prasarana dengan teknologi canggih seperti internet dan gadget yang bagus dan hebat. Tapi jangan lupa untuk mengajarkan nilai kehidupan (value of life) dengan cara yang sederhana dan kreatif agar anak kita bertumbuh menjadi orang yang bisa bersosialisasi dengan semua orang dari berbagai kalangan karena mereka memiliki EMPATI.

Imajinasi JK Rowling yang .... WOW

Sudah 10 tahun lebih berlalu sejak Harry Potter dibuat menjadi movie. Dan mungkin seperti fans lainnya, saya tidak terlalu care apakah ceritanya 100% sama dengan buku atau tidak. Yang saya perlukan adalah melihat visualisasi dari sebuah imajinasi tentang dunia sihir yang sangat menarik.

Yang lebih menarik lagi adalah bahwa imajinasi itu keluar dari seorang ibu rumah tangga, dimulai dengan coretan diatas kertas tissue, kemudian sang pengarang membuat sebuah alur imajinasi yang diterjemahkan menjadi 7 buah buku yang semakin lama semakin tebal.

Apa yang anda rasakan ketika menonton film Harry Potter : Deathly Hallow part 1 dan part 2. Atau apa yang anda rasakan ketika membaca bukunya ? Adakah yang merasa seperti akan mengalami perpisahan dengan teman saat buku yang kita genggam semakin mendekati halaman akhir ?

Saya tidak malu untuk mengakui saya merasakan hal tersebut. Bahkan saya membaca epilog dari buku terakhir berkali-kali sambil membayangkan Harry dan teman-temannya mengantar anak mereka yang akan berangkat ke Hogwarts.Bahkan saat menonton filmnya, perasaan yang sama tetap muncul. Malah lebih dramatis lagi.

Pernahkah kita berpikir apa yang membuat hal tersebut bisa terjadi ? Sebuah imajinasi yang hebat, yang tidak hanya berputar di kepala Rowling, tetapi dengan berani dia kembangkan dan dia tuangkan dalam sebuah tulisan.

Kalau kita melihat buku Harry Potter, saya merasa takjub dengan alur cerita yang ada. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana cara Rowling membuat kisah kehidupan Harry bertaut dengan tokoh lain. Bagaimana Rowling menciptakan nama-nama tokoh yang sulit diucapkan ataupun semua spell/mantera yang digunakan. Seolah-olah kita melihat bahwa Rowling adalah seorang jenius.

Tapi kalau kita mengikuti kisah tentang bagaimana Rowling bisa menulis sebuah kisah Harry Potter yang spektakuler, kita baru mengerti bahwa semua itu terjadi karena kreatifitas dan imajinasi Rowling yang sangat WOW dalam merangkai kata atau memilih kata. Contohnya : spell untuk membuat wand/tongkat sihir menyala dan berfungsi sebagai senter adalah LUMOS. Dan kata tersebut memang berarti cahaya. Banyak juga spell yang diambil dari bahasa Inggris tapi dengan kreatifitas Rowling yang sangat mengagumkan, dia bisa bermain dengan kata-kata tersebut sehingga seolah-olah spell tersebut benar-benar memiliki daya magis.

Jadi, sebenarnya kisah sang anak berkacamata yang kita ikuti dari awal masuk Hogwarts sampai dia berhasil membunuh Lord Voldermort, adalah hasil dari sebuah lamunan, imajinasi seorang ibu. Diramu dengan kreatifitas yang sangat mengagumkan, jadilah Sebuan kisah menakjubkan tentang dunia sihir.

Pengalaman Rowling menunjukkan bahwa usia tidak pernah menjadi limitasi bagi seseorang untuk bisa terjun dalam dunia imajinasi yang dia inginkan. Justru dengan terus mengaktifkan otak kita untuk terus berimajinasi, kita melatih sisi kreatif kita. Lihat saja Rowling, dia bukan penulis, tapi hanya ibu rumah tangga biasa.

Jadi, para ibu, para perempuan Indonesia, jangan takut untuk berimajinasi, jangan takut untuk menjadi kreatif dan jangan takut untuk menuangkan ide dan pikiran kita dalam tulisan.

Be creative ....