Monday, August 20, 2012

Eksklusifitas - perangkap yang tak terlihat

Ada sebuah fenomena menarik yang saya lihat dari beberapa teman saya di kantor tempat mereka bekerja. Berawal dari kegemaran mereka untuk makan, mereka membentuk sebuah komunitas kecil dan berlanjut dengan memberi nama komunitas mereka. Setelah beberapa bulan saya amati, awalnya semuanya baik, karena mereka menjadi lebih solid dalam hal pertemanan, menyempatkan diri untuk sekedar makan malam bersama jika ada salah satu yang berulangtahun. Tapi lama kelamaan, komunitas kecil tersebut kemudian mulai menunjukkan eksistensinya dengan cara-cara sederhana, yang saya yakin tujuannya juga sebenarnya baik, yaitu misalnya berjanji memakai baju dengan dress code yang sama di hari tertentu, berfoto bersama saat istirahat dan lain-lain.

Apakah ada yang aneh dengan komunitas tersebut ? Saya cenderung tidak menyebutnya sebagai komunitas, tapi saya lebih suka menyebutnya sebagai kelompok. Karena mereka tidak menambah atau bahkan mencari member. Hanya sekian saja jumlah anggotanya.

Sebenarnya yang perlu diwaspadai adalah adanya sebuah perangkap yang tidak kita sadari. Kelompok kecil tersebut secara tidak sengaja telah menuju ke arah 'eksklusifitas'. Dalam bahasa Indonesia, kata 'eksklusif' diterjemahkan sebagai sesuatu yang khusus atau bagian yang terpisah dari yang lain.

Dulu pernah ada teman saya yang sangat marah dikatakan bahwa kelompoknya adalah kelompok eksklusif. Karena ternyata pengertian teman saya adalah bahwa eksklusif itu adalah keadaan dimana sebuah kelompok terdiri dari orang-orang berduit.

Padahal dimanapun juga kita bisa menjadi eksklusif dengan cara menunjukkan jati diri kelompok atau komunitas dengan cara yang terlihat secara signifikan oleh umum.

Pernah satu saat sewaktu saya masih bekerja, saya diberi sebuah tim baru yang terdiri dari 3 orang staff dengan latar belakang pendidikan yang berbeda-beda, namun kami memiliki satu tugas yang harus diselesaikan dalam jangka waktu tertentu dan tidak ada negosiasi. Maka sebagai leader dari grup kecil tersebut, saya merasa bahwa hal terpenting adalah membawa grup saya melalui proses pembentukan tim yang baru dengan cepat, sehingga kami bisa bekerja sama dengan baik untuk tugas tersebut. Dan syukurlah team work dan bonding diantara kami berlangsung cukup cepat dengan memanfaatkan waktu luang disela-sela kerja untuk saling mengenal satu sama lain. Tapi apa yang dilihat oleh boss saya? Saya dipanggil dan diberitahu bahwa adalah hal yang kurang baik saya membuat tim yang eksklusif.

Maka dari ketiga cerita diatas, terlihat nyata betapa kita mudah terbawa ke arah eksklusifitas dan betapa orang lain mudah menilai kelompok atau komunitas kita eksklusif atau tidak.

Mari kita coba lihat dari ketiga peristiwa tersebut :
Peristiwa 1 : kelompok kecil yang berawal dari kegemaran yang sama ternyata sekarang mulai menuju ke arah eksistensi kelompok dan mungkin orang akan menilai mereka menjadi eksklusif.
Peristiwa 2 : teman saya marah karena dikatakan eksklusif, sebab ternyata masih ada orang yang belum mengerti arti kata tersebut.
Peristiwa 3 : dengan tujuan menumbuhkan team work dan bonding di tim saya yang baru, ternyata orang lain melihat saya membentuk sebuah tim yang eksklusif.

Nah, karena itu teman-teman, marilah kita bersama-sama merenungkan bahwa walaupun sebuah kelompok memerlukan jati diri, hendaklah kita tidak membuat sesuatu yang 'eksklusif', yang terpisah dari yang lain. Kita patut berempati dengan perasaan orang di sekeliling kita, bukan penilaian mereka, karena mungkin sebagian orang akan melihat kita menjadi anggota dari sebuah grup yang eksklusif dengan seragam yang berbeda atau sandi-sandi yang dipakai dalam berkomunikasi dan lain-lain. Mungkin kita yang berada dalam kelompok tersebut merasa nyaman dan senang. Tapi apakah kita pernah berpikir bahwa mungkin orang-orang di sekitar kita sebenarnya juga ingin berteman dan bergabung dengan kita ?

Eksklusifitas adalah perangkap yang tersedia dimana-mana. Untuk bisa membuat diri kita aware/mawas diri, tumbuhkanlah empati dalam diri sehingga kita akan selalu melihat orang di sekeliling kita. Kita memang tidak perlu dan tidak akan pernah bisa membuat semua orang senang. Tapi setidaknya, sebelum kita melakukan sesuatu, hendaklah mata kita seperti mercusuar yang melayangkan pandangan ke sekeliling kita. Jadikanlah kelompok atau komunitas anda inklusif, bisa bergaul dengan siapa saja. Hindari terperangkap dalam eksklusifitas. Jika ada orang yang memberi masukan bahwa kelompok anda eksklusif, jangan marah, tapi pikirkan dan renungkan. Mungkin bukan maksud anda untuk berbuat seperti itu, tapi ada baiknya untuk sedikit menahan diri agar tidak terlihat seperti itu oleh orang-orang di sekeliling kita.

So, be inclusive, stay away from exclusivity.

Saturday, August 18, 2012

Tertekan dalam Belajar

Suatu hari di sebuah kursus bahasa Inggris, semester baru dimulai dengan sang guru mengajak siswa untuk bersama-sama membuat Classroom Rules. Poin classroom rules tiba pada poin yang disetujui seluruh siswa yaitu : jika ada siswa yang merusak barang dalam kelas, maka siswa tersebut harus menggantinya.

Yang terjadi kemudian adalah hal yang tak terduga. Robert, sebutlah nama siswa tersebut, adalah siswa yang pendiam dan biasanya kooperatif. Tiba-tiba setelah poin tersebut disetujui, Robert langsung keluar kelas.

Sewaktu ditanya oleh sang guru tentang hal tersebut, Robert menjawab : "Aku capek, miss. Tadi habis les matematika, kepalaku pusing. Jadi aku tertekan...."

Robert adalah siswa kelas 4, namun sudah bisa mengekspresikan perasaannya dimana hidupnya penuh dengan berbagai macam les. Dengan satu kata yang mengherankan yaitu : TERTEKAN.

Padahal sewaktu tahun 80-an, jarang sekali anak SD yang penuh dengan berbagai macam les. Dan mungkin perasaan tertekan itu juga tidak kita rasakan.

Tetapi apakah salah orang tua sehingga anak harus mengikuti berbagai macam les ? Tidak juga, karena dasar pemikiran orang tua adalah agar berbagai macam les tersebut bisa menunjang si anak agar lebih mengerti materi yang diberikan di sekolah.

Lalu berarti kesalahan ada pada sekolah ? Tidak juga, karena sekolah memberikan materi sesuai dengan kurikulum pendidikan nasional dari Departemen Pendidikan Nasional.

Jadi berarti kesalahan ada pada Diknas ? Mungkin juga. Karena seharusnya materi yang diberikan kepada anak-anak harus sesuai dengan perkembangan dan kematangan pribadi anak.

Kalau kita perhatikan, materi yang diterima oleh anak-anak SD jauh lebih tinggi daripada sewaktu saya masih sekolah di SD. Apalagi yang sudah duduk di bangku SMP dan SMA.

Sebaiknya memang perlu dilakukan survey yang menyeluruh mengenai kurikulum yang saat ini dipakai di Indonesia. Apa tujuan akhir yang ingin dicapai ? Apakah memang tujuan tersebut sudah tercapai ? Apakah anak-anak di Indonesia memang mampu mengikuti kurikulum tersebut sesuai dengan usia mereka ? Jika mengadopsi kurikulum dari negara tetangga, apakah sudah benar-benar dipertimbangkan kelebihan dan kekurangannya ? Dan apakah dengan nilai akademis seorang anak bisa diukur kualitas dan keberhasilannya ?

Pertanyaan yang banyak dan memerlukan usaha yang banyak juga untuk menjawabnya.

Seorang manusia yang baik dan berguna bagi bangsa dan negaranya adalah manusia yang memiliki akhlak yang baik, kepribadian yang positif. Kemampuan akademis adalah hal formal yang diperlukan untuk melanjutkan dan menyelesaikan pendidikan, tetapi bukan yang utama.

Apakah pernah dipertimbangkan bahwa tidak semua anak Indonesia disa diberi tekanan untuk 'jago' dalam matematika, fisika dan hal-hal eksakta lainnya ?

Pernahkan dipikirkan sesuai dengan teori Multiple Intelligence bahwa ada anak-anak yang memiliki intelegensia dalam hal linguistik/bahasa, seni, kemampuan motorik kasar/sport, dan lain-lain ?

Ayo, para orang tua, apakah ada opini atau pendapat mengenai hal ini ? Apakah kita sebagai orang tua bisa berbuat sesuatu agar tidak ada lagi anak-anak kita yang mengekspresikan keadaan dirinya dengan kata TERTEKAN. Belajar seharusnya merupakan pengalaman yang menyenangkan, bukan pengalaman yang menakutkan.

Wednesday, August 8, 2012

Empati Dalam Era Globalisasi

Tadi pagi saya bersama teman memutuskan untuk pergi ke tempat pijat refleksi langganan kami yang terletak di dalam kompleks perumahan kami. Karena kami adalah pelanggan pertama pada pagi hari itu, maka saya disodorkan remote control TV. Setelah pencet sana pencet sini, akhirnya jari saya berhenti di channel yang kebetulan saat itu memutar sebuah film science fiction yang sangat menarik. Karena tidak ada permintaan lagi, maka kami beramai-ramai nonton film tersebut salam refleksi.

Berselang setengah jam, datanglah seorang ibu yang mungkin middle aged, dengan selendang dan kacamata hitam. Dari sejak datang memang ibu tersebut sudah cukup heboh dan mungkin beliau habis terjatuh atau terkilir karena jalannya pincang.

Sambil duduk menunggu terapisnya datang, ibu ini melihat layar televisi. Pas pada saat itu adegan yang terjadi adalah adegan dimana ada sepasang kekasih sedang - maaf - berciuman. Tapi itu terjadi sangat singkat dan sudah berganti ke adegan pertempuran.

Tiba-tiba ibu itu berdiri dan dengan suaranya yang cukup lantang untuk didengar oleh kami semua dalam ruangan itu, dia meminta remote control TV dan berkata - entah ditujukan kepada siapa - bahwa : "kita ganti aja, ini filmnya terlalu ekstrim, kita cari yang ringan-ringan saja, musik saja lah ..."

Dan tanpa ada kata-kata, beliau langsung mengganti channel. Tak lama kemudian karena tidak jadi dipijat, ibu tersebut langsung pulang.

Bagaimana reaksi semua orang yang ada dalam ruangan itu ? Hanya satu : bengong. Bagaimana dengan saya sendiri, sampai malam harinya saya masih terbayang-bayang dengan kejadian tersebut. Bukan karena saya marah sebab film yang menarik tersebut tidak bisa saya tonton selama beberapa menit. Tetapi saya lebih melihat dua hal penting dari kejadian tersebut.

Pertama, kita sebagai orang Timur, bukankah sangat menjunjung tinggi sopan santun dan etika berkomunikasi ? Dengan cara ibu ini langsung melakukan 'sabotase kecil' dengan remote control AC, menunjukkan bahwa beliau merasa tidak perlu bertanya apakah film tersebut sedang ditonton atau hanya salah pencet channel. Nah, kalau generasi middle-aged nya seperti itu, saya bertanya dalam hati, bagaimana dengan generasi muda di keluarga ibu ini. Bukankan anak-anak dan remaja selalu mencontoh segala tingkah laku dari orang tua mereka?

Yang kedua, sekarang adalah jaman globalisasi. Dari satu sisi, adegan seperti itu adalah bumbu sebuah film dan kebetulan film itu memang film untuk orang dewasa. Dari sisi lain, yang ada disitu semuanya orang dewasa, sudah menikah semua. Hanya karena ada scene yang beliau tidak berkenan, bukan berarti beliau punya hak untuk melakukan sensor dengan memindah channel.

Kalau kita gabungkan kedua hal tersebut, hal penting yang bisa ditarik sebagai kesimpulan adalah bahwa kita sebagai orang yang sudah 'dewasa' secara usia, sudah sewajarnyalah bisa beradaptasi dengan dunia dan teknologi saat ini. Memang kita mesti memberikan 'pagar-pagar' untuk anak kita, tapi bukan berarti kita memperlakukan anak seperti anak bayi. Dilihat dari cara ibu itu bertindak, dimana beliau langsung men-judge bahwa adegan tersebut ekstrim dan langsung mengambil kontrol dalan ruangan tersebut, maka bisa kita bayangkan bagaimana generasi muda di keluarga mereka akan bersikap. Tidak ada empati dengan lingkungan sekitar dan tidak bisa beradaptasi dengan teknologi dan globalisasi.

Hari gini kalau kita sebagai orang tua melarang anak-anak terlalu banyak, wah, mereka akan semakin penasaran dan akan menemukan cara untuk mencari tahu sendiri. Bukankah itu lebih berbahaya ?

Hari gini, kalau kita sebagai orang tua tidak bisa menumbuhkan empati anak-anak untuk bisa bersosialisasi dengan baik dengan semua orang, wah .... kasihan mereka nantinya kalau sudah masuk dunia kerja.

Jadi para orang tua, banyak-banyaklah membaca mengenai parenting skill. Banyaklah mengikuti 'social media' yang membahas mengenai parenting. Agar kita tidak terjebak ke dalam pola pengasuhan anak yang kolot dan tidak terbuka.

Anak adalah titipan Tuhan, jadi jangan mencoba membentuk anak sesuai dengan gambaran kita. Tugas kita di dunia ini hanyalah membimbing mereka agar tahu mana yang benar dan mana yang tidak benar untuk diikuti.